Surat Cinta untuk Rembulan
"Kenapa kita sangat mudah jatuh cinta pada Rembulan?"
Gadis itu bertanya, entah padaku atau pada angin yang berembus sendu, atau sekedar melampiaskan kekosongan hatinya.
Meski begitu, aku ingin menjawab. Sebab kekagumanku pada objek perhatiannya juga tak lagi bisa kubendung.
"Mungkin karena kita bisa menatap Rembulan dengan lama," ujarku, sukses menarik atensinya yang tadi terpaku pada langit. "Kita dapat mengenal Rembulan. Kita jadi tahu lembutnya cahaya Rembulan, terang tapi meneduhkan. Kita jadi tahu tegarnya Rembulan, kesepian di langit seorang diri tapi tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Dan kita jadi tahu, betapa indahnya malam jika kita punya setitik harapan atas hadirnya seberkas cahaya bulan."
Ia terdiam sejenak, mencerna dengan khidmat kata-kataku. Seakan segala huruf yang kuucapkan adalah penting untuknya. Meski nyatanya, aku tak lebih dari sekedar tanah yang hanya untuk dipijak.
Setelah sekilas hening, ia mengurai senyuman tipis. Dan, oh, Tuhan. Aku telah menyaksikan ratusan bulan sabit di mataku. Namun tak ada yang sedekat dan seindah senyumannya.
"Jika," ia berandai, langsung kusimak dengan perhatian tertinggi, "kita bisa memandang Mentari tanpa menyakiti mata kita, apa kita juga akan jatuh cinta padanya? Jika kita berusaha mengenalnya, mengenal diri aslinya di balik sosok yang selama ini kita jauhi karena panas sengatannya.
Jika kita tahu keindahan yang tersembunyi di balik pancaran yang memanaskan, keteduhan di balik kehangatan yang menyelubunginya, dan besar kasih sayangnya pada seluruh manusia di Bumi, apa kita juga akan jatuh cinta pada Mentari, sebesar kita jatuh cinta pada Rembulan?"
Mendengar segala pengandaian itu, aku menghela napas panjang. Sesuatu dalam hatiku bergetar, dan aku tahu aku tak seharusnya merasakannya. Aku tak kuasa memikirkan bagaimana jika gadis ini benar-benar mencintai Mentari. Maka pada akhirnya aku hanya mengulum senyum lembut, seperti yang biasa aku lakukan.
"Aku pasti akan membuka hati pada Mentari," sebagai rasa terima kasih karena membuatku hidup selama ini, "tapi cintaku pada Rembulan tak akan hilang atau memudar."
Jika aku bisa mengenal Mentari, tentu aku akan lebih menyayanginya dari sekarang. Ialah pusat Semesta, Bintang yang menghidupkan Bumi. Juga yang membuat Rembulan bersinar. Cahaya yang menumbuhkan tawa dan senyuman pada setiap insan di dunia. Perwujudan impian yang membuat manusia mencintai hidup.
Namun pemilik hatiku tak akan berubah. Cintaku hanya akan dimiliki olehnya, Sang Rembulan.
Aku tentu akan bahagia jika aku diikutsertakan dalam gelak tawa ribuan teman. Tapi aku akan jauh lebih bahagia, jika seorang sahabat rela menemaniku, setelah melihat sosokku yang paling rapuh dan wujudku yang paling buruk rupa.
Aku mungkin butuh sesuatu untuk diperjuangkan, sebuah mimpi untuk dijadikan nyata. Tapi aku lebih butuh seseorang yang menemaniku saat aku takur akan gelap, yang mendekapku saat aku sendirian, dan yang menghapus air mataku saat aku tak lagi mampu berdiri sembari mengatakan 'semuanya akan baik-baik saja'.
Aku telah terbiasa dengan sepi. Aku sudah terbiasa dipajangkan sebagai hadiah lalu dibuang saat tidak lagi dibutuhkan. Aku sudah terbiasa mendekam di sudut paling gelap sebuah malam. Aku sudah terbiasa dibenci oleh dunia.
Sebab aku memang hanya tanah, yang hanya akan kembali menjadi tanah. Seorang anak tak bernazab yang tak diinginkan oleh bahkan ibunya sendiri. Seorang monster paling jelek bagi manusia. Seorang rakyat jelata yang mengais tanah demi sebutir beras.
Aku telah terbiasa.
Tidak. Bukan karena aku kuat. Aku tidak sekuat itu.
Aku bisa bertahan, karena di setiap malam di mana aku terbuang, di penghujung senja di mana aku terus berpikir untuk menyerah, Rembulan selalu terbit. Rembulan selalu terbit untuk menyibak seberkas cahaya. Menemaniku di setiap sepiku.
Semua telah tertidur lelap begitu Rembulan muncul. Hanya aku yang terjaga menggali tanah untuk dibuat rel kereta. Jika aku juga menyerah dan menghilang, maka siapa yang akan menemani Rembulan?
Siapa yang akan menemani gadis ini?
Siapa yang akan mendengarkan ceritanya tentang luasnya dunia? Siapa yang akan tertawa bersamanya tentang dunia yang lebih indah? Siapa yang akan menghapus derai air matanya akan pedihnya dunia kami dan hidup yang tak adil, jika aku juga menyerah pada hidupku sendiri?
Siapa yang tega merenggut cahayanya? Dia, Rembulanku. Gadis asing bermata teduh yang selalu menjadi sahabatku.
"Sesulit apa puisi yang ingin kau tulis, hingga raut wajahmu terlihat sangat kepayahan?"
Aku terdiam. Memandang lagi kertas-kertas berantakan penuh coretan yang kini tergenggam di tangannya. Tidak mungkin aku bilang padanya, 'itu puisi untukmu'. Sangat tidak pantas bagiku mengatakannya.
Maka alih-alih berkata jujur, aku kembali pada tempatku berpulang: Rembulan.
"Puisi ini tentang...seorang manusia yang ingin bersama Rembulan."
Aku menatapnya lekat. Sesuatu di lubuk hatiku, dan mendung yang mendura sejak awal fajar membuatku merasa, bahwa mungkin ini adalah kali terakhir aku bisa menatap Rembulanku dari dekat.
"Tapi ia tidak berhak mencintai Rembulan, karena ia hanya seorang manusia."
Lalu kulihatlah sesuatu yang tak pernah kusangka akan kusaksikan.
Napasnya tercegat. Binar matanya meredup. Pandangan beralih semu. Tatapnya padaku menyiratkan pedih, bagai rasa bersalah. Lantas di pipinya mengalir wujud kesedihan.
Rembulanku menangis.
"Kisah ini terlalu sedih," ujarnya menahan isakan.
Aku menggigit bibir. Tetap berusaha agar senyumku tidak pupus. Kuangkat satu tanganku. Jemariku tertaut untuk menghapus derai air matanya.
Aku ingin mencintaimu dengan tulus
Menemanimu seperti hadirmu mengusir sepiku
Entah bagaimana, perasaanku sejak bertahun-tahun lalu yang tak bisa terurai menjadi kata-kata, kini mengalir begitu saja ketika tanganku menyentuh wajahnya.
Engkau Rembulanku
Yang cahayanya teduh dan menyiratkan harapan
Kisah kami tidaklah tragis karena perasaan yang tak terbalaskan. Tidak. Si manusia hanya mengagumi dan memuja Rembulan seorang. Dan Sang Rembulan pun begitu mengasihi manusia kecil ini.
Aku ingin selalu berada di dekatmu
Bersamamu di langit yang jauh dari kepedihan
"Aku mencintaimu, Rembulanku."
Akhirnya kukatakan. Mimpi yang tak akan jadi nyata. Perasaanku padanya, harapan yang tak akan terwujudkan.
Aku ingin mencintaimu dan dicintai olehmu
Mendekapmu dalam setiap cita dan harap, dalam pedih dan duka
Bibirnya bergerak. Dari sorot matanya, aku tahu ia ingin mengatakan hal yang sama. Namun, tak semua kisah cinta dapat berakhir bahagia.
"Ayo pulang, Nona."
Titah dari penguasa dunia ini adalah mutlak.
Namun aku hanya manusia
Yang tak pantas bersanding dengan Rembulan
"Tunangan Anda sudah menunggu."
Aku akhirnya disadarkan oleh kenyataan. Rembulan adalah milik Mentari yang menjadikannya bersinar. Bukan milik seonggok lumpur sepertiku.
Aku hanya manusia yang tidak berhak mencintaimu
Dan hanya boleh memangagumimu dari jauh
Demikian perpisahan kami. Semua ini diakhiri dengan hasrat yang terhalang oleh torehan takdir. Rembulanku melenggang pergi, dengan kenangan tak utuh sebagai bayangannya.
Bagiku, tak apa. Aku tetap mencintai Rembulan. Mencintainya adalah satu-satunya kebahagiaan yang kumiliki di dunia ini.
Tak perlu Sang Rembulan balas mencintaiku dan berpaling dari Mentari. Cukuplah bagiku jika ia tetap menjadi Rembulan. Menjadi satu-satunya Dewi di tengah langit malam, bersinar dengan benderang, pada purnama, sabit, atau pun gerhana. Cukuplah Rembulanku tetap bahagia selalu.
Karena arti dari tulus mencintainya, adalah tulus merelakan dan tetap mengharapkan bahagianya meski ia bukan milikku.
Karena hadirmu adalah cahayaku
Meski sebenarnya, tak bisa kupungkiri. Kepergian Rembulanku, membuat duniaku gelap gulita.
Engkau adalah seorang sahabat dan pujaanku
Sebuah hadir yang mengusir sepiku
Seberkas cahaya yang menghadirkan bahagiaku
Dan sebuah impian yang tak akan terwujud
Namun meski aku diberi kesempatan
Untuk mengenal Mentari, Komet, Galaksi, atau untuk mengenal hidup tanpa cahaya
Aku akan tetap mencintaimu, Rembulanku
Yang senantiasa menghilangkan kegelapan malamku
Palopo, 11 Oktober 2022, Mahesa Putri Lukman, Surat Cinta untuk Rembulan
Komentar
Posting Komentar