Menjeremba Setitik Harsa
Menjeremba Setitik Harsa
Wahai ibu, rembulanku
kala malam gulita, bagaimana kabarmu?
Ah, maaf. Aku
terus-terusan lupa bahwa ibu sekarang ada di tempat yang tidak mengenal surat.
Jawaban ibu pasti akan tersampaikan padaku lewat rahmat Tuhan yang membangunkanku
di sepertiga malam. Tapi tanpa ibu jawab pun, aku tahu ibu baik-baik saja. Aku
tahu ibu pasti sedang berjalan dengan bahagia di padang bunga yang jauh lebih
indah dari Taman Gantung Babilonia.
Andaikata ibu bertanya
balik, aku juga baik-baik saja bu. Bahagiaku mungkin tak sama lagi sejak ayah
mulai melunta-lunta di jalanan 10 tahun yang lalu. Bahagiaku mungkin tak sama
lagi sejak engkau beranjak menapaki tangga-tangga langit. Tapi aku baik-baik
saja bu. Dengan kedua adikku yang sifat mereka bagai candramawa, saling
mengantonim satu sama lain, aku masihlah bahagia.
Tentang kedua adikku
yang usia kami terpaut jauh, tentang Kallang yang selalu irit bicara tapi
sangat pengertian, tentang Pute yang ceria tapi sangat perhatian, ada yang
ingin kuceritakan. Sekarang aku mengerti kenapa ibu sangat bahagia saat
membelikanku es krim.
"Kak Eja!"
Suara cempreng itu menggema di telingaku. Kudapati Pute memelukku dengan erat
saat aku tengah sibuk menyiapkan bekal nasi dan telur dadar untuk kedua adikku.
"Eh, Pute. Udah
bangun dek?"
"Iya dong! Masa aku
tidur kebo tiap hari?" Seperti biasa. Senyum Pute selalu cerah,
mengalahkan cerahnya mentari. Senyum itulah yang selalu membahagiakan hariku
dan mengingatkanku akan keindahan hidup.
"Kak Eja sedang
kerja, Pute. Jangan ganggu," seperti biasa. Kallang selalu berujar dengan
tenang. Ketenangan itulah yang selalu membuatku berani melewati hari yang keras
dan penuh goncangan.
"Hehe," Pute
hanya cengengesan. Namun setelah itu ia lanjut berbicara dengan suara lirih,
"kak. Tahu hari ini hari apa?"
"Hmm...hari
Senin?"
Pute langsung memukul
punggungku dengan tinju yang tidak terasa, "bukan ish!"
Aku memutar balik otakku
dengan bingung. Mencoba mencari alasan apa kiranya yang membuat Pute tidak puas
dengan jawaban sederhana. Hari ini...tanggal 15 November....
"Astaga! Kalian
berdua ulang tahun!" Sontak aku memeluk mereka berdua dengan erat.
Bisa-bisanya aku lupa hari ulang tahun mereka. "Kembar emasku sudah besar!
Selamat ulang tahun dik. Semoga kalian terus bahagia dan lancar
rezekinya," jujur, saat itu sebutir air mataku menetes dengan alasan yang
tidak kumengerti.
"Makasih kak!
Kukira kakak lupa."
"Memang hampir lupa
kan?"
"Hehe. Ada sesuatu
yang kalian inginkan tidak?" Tanyaku antusias. Walau hanya sesekali, aku
ingin memanjakan mereka. Namun mereka mengejutkanku dengan menggelengkan kepala
bersamaan.
"Loh? Kenapa?"
Keduanya terdiam.
Mengirim kami bertiga dalam keheningan canggung. Hingga Kallang angkat bicara,
"kami sedang dan memang tidak perlu apa-apa kak. Hidup kita sudah susah
sejak ayah pergi dan ibu meninggal. Tidak perlu menambah kesusahan kakak dengan
hal yang tidak perlu."
Aku terdiam. Hatiku
sakit mendengarnya bu. Sejak ibu pergi, mereka menjadi pribadi yang merasa
cukup dengan segala hal yang tersedia tanpa pernah mengharap lebih. Mereka
terpaksa menjadi dewasa di usia yang begitu muda.
"...a-aku rindu ibu
kak."
Ah...aku sudah hafal.
Pute akan selalu merindukanmu kapanpun namamu disebut. Begitulah besar
cintanya. Pasti menyakitkan saat orang yang kau cintai tidak bersamamu di hari
spesial.
Kutautkan hatiku
kembali. Kuucapkan dengan pilu, "ibu selalu ada bersama kita."
Kini kukembalikan
rasionalitasku yang sempat terguncang. "Dan satu-satunya hal yang perlu
kalian pikirkan adalah belajar dengan baik. Selebihnya adalah tugas kakak.
Membuat kalian bahagia juga tugas kakak. Jadi jangan khawatir untuk meminta
sesuatu pada kakak, oke?"
Mereka mengangguk lalu
memelukku kembali. Untuk menghangatkan suasana, aku mengambil inisiatif,
"nanti kakak belikan es krim yah?" Kulihat mereka mengulum senyum di
wajah masing-masing. Aku ingat makanan kesukaan Kallang dan Pute adalah es
krim. Memang sangat ampuh manisan yang dicintai seluruh kalangan itu.
"Yang rasa vanilla
kak?"
"...coklat."
Pada akhirnya, Pute dan
Kallang juga turut meminta.
"Iya deh."
"Yeey!"
Kuantarkan Kallang dan
Pute ke sekolah mereka. Aku tahu hati mereka bergejolak dalam diam tiap
menyaksikan anak-anak lain dengan seragam yang selalu rapi disetrika dengan
tas-tas mahal diantar oleh ibu, ayah, atau bahkan keduanya. Namun tak ada yang
bisa kami lakukan dengan pemandangan pahit itu. Kami hanya bisa bersyukur
dengan apa yang kami miliki dan tetap berprasangka baik pada Tuhan.
"Dadah kak! Kakak
jangan ketiduran di kelas yah!"
"Hati-hati
kak."
"Iya. Belajar yang
rajin yah dek."
Kuhabiskan pula setengah
hariku di sekolah. Aku ingat ibu selalu menasihatiku untuk mengutamakan
pendidikan. Karena itu aku membagi waktu belajar dan bekerja. Tujuh jam duduk
menatap papan tulis dan rumus-rumus yang walau kadang tidak mencapai kalbuku,
tidak ada yang kusia-siakan. Tidak ada detik yang kuhabiskan dengan
berleha-leha.
Banyak orang salah paham
bahwa hidupku menderita karena terus menatap buku sekaligus menjadi tulang
punggung keluarga. Nyatanya tidak seperti itu sama sekali. Aku menikmati apa
yang kulakukan saat ini.
Bulan November ini agak
aneh. Hujan seakan menjadi pemalu di hadapan sang Surya. Membuat raja langit
itu menjadi lebih ganas. Sepulang sekolah seragamku sudah habis terbasahi
keringat. Memang wajar kalau ingin makan es krim di hari-hari terik ini. Harus
cepat kuselesaikan pekerjaanku dan mengambil gaji hari ini.
"Nuwun sewu nak. Numpang tanya
boleh?" Orangtua renta itu tak kutahu identitasnya. Anehnya, wajahnya
terasa familiar. Mata sipitnya juga menyiratkan kesedihan mendalam saat
melihatku. Namun aku tidak menghiraukannya.
Awalnya dia bertanya
tentang sebuah alamat. Tapi pada akhirnya aku mengantarkannya ke alamat itu.
Rasa takut menjalariku melihat linglungnya orang itu dan caranya menyebrang
jalan raya mengundang kendaraan untuk menabraknya. Entah apa yang telah dilalui
orang itu. Setelah sampai di tujuannya, dia tidak berhenti berterima kasih
padaku.
"Matur nuwun nak! Saya hampir nyasar tadi
kalau tidak ada kamu!"
"Sama-sama pak.
Saya senang bisa membantu bapak."
Kusadari aku sudah
hampir terlambat kerja. Tapi tak apalah. Asalkan bapak misterius tadi bisa
sampai dengan selamat. Cukup aku berlari di bawah terik surya tanpa teduh. Pada
akhirnya semua peluhku akan terbalas. Saat melewati masjid, tak lupa aku mampir
sejenak untuk sekedar memasukkan beberapa uang receh ke kotak amal. Hal ini
telah menjadi kebiasaanku sejak lama. Kulanjutkan lagi perjalananku menuju
bengkel.
"Nak Eja! Saya kira
kamu ndak datang. Kerja dulu ini motor e."
"Hehe. Maaf
bos."
Aku bekerja sebagai montir di salah satu bengkel dekat sekolahku.
Gajinya mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk membeli sekantong beras dan enam
biji telur. Walau miskin, aku tidak bisa membiarkan Kallang dan Pute makan mie
instan setiap hari. Mereka perlu gizi cukup agar konsentrasi dalam belajar.
Hari ini banyak sekali
motor yang perlu kuperbaiki. Entah bannya kempes, meletus, atau bahkan
rantainya putus. Mungkin ini efek banjir semalam. Jalanan pun jadi acak-acakan
dibuatnya. Tapi tidak apalah bekerja keras. Ini memang sudah kewajibanku.
Sebagai montir, dan sebagai seorang kakak.
Sehabis memperbaiki satu
motor, kugunakan waktu luangku untuk mengerjakan tugas sekolah. Hingga datang
motor lainnya bersama perintah bos. Lalu kuperbaiki lagi dan kembali belajar.
Hal itu terus berlanjut hingga aku tak sadar semburat senja telah menutupi
langit. Berakhir pula hariku yang panjang.
"Eja. Ini. Saya kasi lebih-lebih sedikit. Banyak
pelanggan hari ini. Belikan mi adikmu
gula-gula."
"Wah...makasih
banyak bos!"
Hari ini gajiku lebih
banyak dari biasanya, 50.000. Sangat banyak untuk orang yang hanya memompa ban
kempes. Hatiku girang bukan main. Dengan ini aku bisa membelikan Kallang dan
Pute es krim, sekaligus memenuhi kebutuhan kami, dan itu pun masih ada sisanya.
Tanpa adamu bu, aku belajar cara menghemat uang dan kadang juga cara menawar,
hehe.
Tanpa berlama-lama, aku
bergegas ke toko es krim dengan hati berbunga-bunga. Kapan terakhir kali aku
memberi adik-adikku hadiah? Aku tak mengingatnya lagi. Mungkin sekarang akan
jadi yang pertama setelah sekian lama.
Tapi....
Tepat di depan toko, di
depan limpahan es krim yang harusnya hanya tinggal kubeli, aku baru sadar
uangku hilang.
Rasanya seperti
tersambar petir di siang bolong. Kucek kembali semua kantong dan tasku, tidak
kutemukan. Kutelusuri jalanku tadi dari ujung hingga ujung, tidak juga
kutemukan. Rasa panik mulai menguasaiku. Namun kucoba untuk duduk dan
menenangkan diri.
Ah...uangnya pasti sudah
ada di tempat yang tidak tergapai. Aku hanya bisa mengikhlaskannya. Uang
bukanlah hal terpenting. Hanya saja...apa yang harus kukatakan pada Kallang dan
Pute nantinya? Aku telah gagal memenuhi janjiku pada mereka. Aku gagal membuat
mereka tersenyum di hari-hari berat tanpamu.
"Kak? Ngapain di
sini kak?"
"Kami cari kakak
daritadi loh!"
Renunganku buyar saat
kusadari Kallang dan Pute menghampiriku. Kulihat pula langit telah menggelap
dan hari berganti malam. Aku pasti terbawa suasana saat mencari uangku dan lupa
waktu. Pantas saja Kallang dan Pute mencariku. Kuputuskan untuk jujur saja pada
mereka dan mengakui kekhilafanku.
"Dek. Maaf. Uang kakak hilang," kuucapkan dengan berat,
sembari setetes air mata terjatuh dari netraku, "kakak tidak bisa
membelikan kalian es krim."
"Haha...padahal
kakak sudah janji sama kalian yah...."
Kami kembali terdiam.
Kembali pada keheningan canggung seperti tadi pagi. Namun kali ini dingin.
Sangat dingin. Hingga kurasakan Kallang dan Pute masing-masing duduk di
sampingku. Rasa dingin itu menghilang dalam sekejap. Tergantikan oleh
kehangatan yang mungkin selalu ada, tapi tidak pernah kusadari karena aku
perlahan menjadi buta akan dunia.
"Kak. Bersamamu
lebih menyenangkan dibanding memakan es krim mewah," itu pertama kalinya
Kallang mengucapkan hal manis dari mulutnya.
Pertama kali pula Pute
melepas topeng keceriaannya, "itu cuma es krim kak. Rasa manis dan
dinginnya hanya membantu kita bertahan sementara di panas terik."
Beban-beban seakan
terangkat dari pundakku saat Pute melanjutkan ucapannya, "selama kita
memiliki satu sama lain, aku yakin kita bisa melewati semua kemarau dan badai.
Walau tidak pernah memakan es krim sekali pun."
Tak terasa, kami saling berpelukan dan tangis kelegaanku mengalir
deras.
Wahai ibu, cahayaku
dalam gelap gulana, tanpamu aku lemah.
Aku tak tegar, tak pula
kuat, pun hatiku rapuh dan aku gampang menangis. Duka semata tak cukup untuk
menempaku. Tapi di hari itu aku baru menyadari, aku punya dua malaikat kecil
bersamaku. Di kala aku hampir menyerah pada hidup, kala aku telah tersungkur,
kehadiran merekalah yang membuatku bangkit, tangan merekalah yang aku raih.
Aku ingin menjaga
mereka. Aku ingin mereka menjalani hidup. Aku ingin mereka bahagia. Keinginan
itulah, yang mambuatku menjadi kuat tanpamu. Untuk mereka, aku akan menjadi
kuat.
Tapi baru hari itu pula
aku sadar, tak masalah juga menjadi lemah. Karena aku manusia. Merekalah yang
mengingatkanku kenyataan itu.
Tiba-tiba pria
misterius yang tadi kutemui muncul di hadapan kami. Wajahnya tampak kegirangan
dan tanpa basa-basi dia langsung menyapaku.
"Wuoh! Nak yang tadi tunjukkan saya
jalan!"
Ibu tahu? Ternyata pria
misterius itu adalah pemilik toko es krim. Katanya sebagai tanda terima kasih,
dia memberi kami banyak es krim dari tokonya secara cuma-cuma. Dia bahkan
bersikeras memberiku selembar uang 100.000. Aku sangat terkejut. Begitu pun
kedua adikku. Namun pada akhirnya, kami menerima niat baik pria itu.
Yang membuatku
terkejut, Kallang dan Pute masing-masing hanya mengambil sebungkus es krim
walau pemilik toko bilang mereka bisa mengambil sebanyak apapun yang mereka
inginkan. Lalu apa yang mereka katakan?
“Kami memang
hanya mau satu Kak.”
Aku tidak akan bisa
melupakan raut wajah Kallang dan Pute waktu itu. Bahagia mereka benar-benar
murni dan sederhana. Mata mereka berbinar lebih terang dari bintang mana pun di
langit malam kala itu. Seakan mereka telah berdamai dengan sedih dan rindu
tanpa hadirmu.
Aku pun bahagia. Sangat
bahagia.
"Kak! Lain kali
jadi tourguide saja! Biar bisa dapat
banyak es krim!"
"Kesannya seperti ngemis."
"Lang! Itu namanya
balas budi!"
"Bukannya
pamrih?"
"Sudah-sudah. Makan
saja es krimnya."
"Kak.
Makasih!" Mereka berdua pun turut bahagia. Terlihat mereka berdebat lagi tentang hal-hal kecil
seperti biasanya.
Tuhan memang maha
membolak-balikkan perasaan hambanya ya bu? Ia memberi kami rezeki dengan jalan
yang tidak kusangka-sangka. Aku pun tak akan heran jika suratku yang kulipat
menjadi pesawat kertas, lalu kuterbangkan melewati langit Palopo, suatu saat
akan sampai kepadamu di surga. Aku juga tak akan heran jika
definisi kebahagiaan itu sesederhana sebungkus es krim yang manis.
Salam, Eja.
Komentar
Posting Komentar