Museum Diri
Museum Diri
Pagi ini aku merasa...manusia itu sangat mirip dengan museum.
Aku melihatnya ketika becermin di kaca jendelaku. Dari pantulan mataku aku berasumsi, mungkin aku hanyalah sebuah lukisan dengan cat air dari orang-orang yang pernah kucintai. Kebetulan saja warnanya terlihat sendu.
Mungkin saja aku hanyalah minuman yang diracik spesial dengan resep rahasia: kepingan memori masa lalu.
Bahan utamanya tentu bahasa yang dipakai ibu dalam caraku berbicara. Segenggam ketegasan ayah dalam mempertahankan harga diri. Sejumput diri mantan sahabat dalam caraku tertawa. Dan sepercik pinguin dari Happy Feet pada cara berjalanku.
Mengelap lensa kacamata dengan ujung baju juga dari ibuku. Hati penuh cerita untuk didongengkan seperti ibu, atau kakekku, atau kakeknya, atau kakeknya lagi. Nenek di kota jauh tentu saja alasan kenapa aku tahu cara menyalakan kompor.
Caraku menopang dagu, lengkungan senyumku, semangatku, wajah yang kutunjukkan pada dunia, sepertinya...semua itu kupelajari dari orang lain.
Rasanya seperti menjadi museum. Orang-orang datang, singgah untuk sejenak, lalu pergi atau menghilang. Yang tersisa hanya kepingan kecil identitas mereka, yang perlahan melebur menjadi bagian dari diriku. Dan tetap hidup melalui perjalanan jiwaku.
Tapi mungkin itulah indahnya manusia. Kita menjadi museum bagi setiap orang yang kita temui, setiap buku yang kita baca, setiap film yang kita tonton, dan setiap lagu yang kita dengarkan. Itulah koleksi artefak berharga yang menjadikan diriku, aku.
Itu cukup hebat, menurutku. Orang lain membentuk diri kita, dan kita juga membentuk orang lain.
Tapi manusia bukan museum. Kita manusia, seniman, penemu, insinyur, dan segala macam profesi lainnya. Karena menciplak membuat kita merasa bersalah, kita menciptakan hal baru dari hal-hal yang sudah kita pelajari.
Terciptalah sebuah lukisan indah yang tidak ada duanya. Walau bahan yang disediakan alam mungkin sama untuk setiap manusia, tapi komposisi cat air, jenis kuas, dan teknik menggaris yang kita pakai, semuanya berbeda.
Jadilah, seorang manusia yang unik. Mahakarya Tuhan yang luar biasa.
Komentar
Posting Komentar