Ramuan Ajaib Paman Araav
Ramuan Ajaib
Paman Araav
Sudah puluhan bahkan ratusan kali Bagas mengeluh bahwa dia tidak akan bisa memenangkan lomba lari di sekolahnya. Danish bahkan sudah sangat lelah menasihati dan meminta perwakilan kelasnya itu agar tetap optimis dan percaya diri.
"Aaaa! Lebih baik aku mengundurkan diri saja!" Ucap Bagas sembari merebut daftar peserta di tangan Danish untuk mencoret namanya.
Dengan cepat Danish mengambil kembali kertas itu sebelum Bagas sempat mendaratkan pulpennya. "Kamu kenapa lagi Bagas?" Tanya Danish dengan nada malas karena sudah berkali-kali dia harus menyingkirkan sikap pesimis sahabatnya.
"Aku tidak mungkin menang Dan! Kamu nggak liat kakak kelas yang bongsor-bongsor itu?!" Jawab Bagas seraya menunjuk orang-orang yang dimaksudnya. Mata Danish segera mengikuti arah yang ditunjuk Bagas.
Kali ini Bagas ada benarnya. Rasanya kalau Bagas yang masih kelas tujuh dibandingkan dengan senior mereka yang sudah menduduki kelas 9, mereka bagaikan Usain Bolt dan anak RT sebelah. Atau bahkan lebih mirip raja hutan dan anak kuda yang baru lahir kemarin. Apalagi senior yang namanya Radith. Badannya kekar dan kakinya panjang. Kalau kata guru, tiap ada lomba lari di sekolah, sudah pasti dia juaranya. Bahkan kalau kejar-kejaran dengan guru BK, larinya masih lebih cepat.
Danish pun menghela napas panjang setelah menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya pada Bagas. Tidak baik rasanya kalau dia menjejali Bagas dengan beban dan harapan palsu karena mengatakan, 'kamu pasti menang kok!', 'jangan pesimis,', atau 'kamu harus yakin! Kamu harus menang buat kelas kita!'. "Ikuti saja lombanya. Cuma kamu anak di kelas kita yang bisa ngejar tukang bakso kalau nggak dengar ada yang manggil. Kalaupun kalah nggak apa-apa kok. Nanti kutraktir. Jadi ikut aja, oke?" Memang pantas Danish menjadi ketua kelas. Dia sangat pengertian dan tidak menyerah untuk memotivasi temannya. Walau saat ini dia sudah sangat lelah berurusan dengan rasa pesimis Bagas.
Bagas termenung dengan ucapan Danish. Kata orang, Bagas selalu berlari dengan cepat, seolah dia bisa mengejar angin-angin yang tak terlihat dan menerbangkan angan itu. Bagas sangat senang berlari. Dia terus berlari, mengejar begitu banyak mimpi-mimpinya yang tergantung tinggi di atas langit. Semua orang mengagumi kecepatan berlari Bagas. Para guru selalu memuji dan teman selalu menyanjung.
Tapi! Sekalipun dalam hidupnya, Bagas tidak pernah mengikuti lomba lari! Ini adalah kali pertamanya berlomba.
'Kalau kalah tidak apa-apa kan?' Tanya Bagas pada dirinya sendiri. Dari pertanyaan itu pula, batinnya mulai beradu dengan risau.
'Tapi kalau malu-maluin gimana?'
'Kalau teman dan guru kecewa gimana?'
'Apa pertama kali berlomba rasanya memang seperti ini?'
'Tapi aku juga cepat kan?'
'Tapi lawan-lawanku juga cepat,'
'Aku bisa nggak yah?'
'Nggak mungkin aku bisa ngalahin mereka!'
'Gimana ini?'
Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar, dugaan dan prasangka saling mengadu diri untuk menguasai emosi Bagas. Bagas sampai menjambak rambutnya karena grogi. Danish pun menatapnya heran karena tingkahnya.
"Galau Gas?" Sebuah kalimat terujar dari mulut seorang pria paruh baya yang tiba-tiba muncul di depan Bagas dan Danish.
"Paman Aarav?" Panggil Bagas memastikan kalau yang ada di depan matanya itu benar pamannya yang juga atlet lari provinsi.
"Ya. Paman datang buat liat kamu lomba," ucap Aarav sembari mengambil duduk di antara Bagas dan Danish, "tapi sepertinya kamu tidak begitu antusias," sambung Aarav.
"Iya tuh Om! Dari tadi si Bagas pesimis mulu. Katanya nggak bakalan menang lah, lawannya hebat lah, dan sebagainya!" Ucap Danish seolah mengadukan Bagas pada Aarav.
Aaravpun tertawa lepas mendengarnya. "Serius Gas? Padahal kamu larinya cepat banget loh! Kok nggak percaya diri?" Tanya Aarav.
Bagas bangkit dari duduknya dan berusaha merebut kertas nama lagi dari Danish. Namun Danish memain-mainkan kertas itu di udara hingga Bagas tidak bisa mengambilnya. "Siniin Dan! Aku nggak mau ikut!" Pinta Bagas masih berusaha mendapatkan kertas itu.
"Gamau!" Ledek Danish yang sedang bersembunyi di balik punggung Aarav. Bagas pun semakin gusar dibuatnya karena ekpresi menjengkelkan Danish. Aarav memijat pangkal hidungnya melihat tingkah laku kedua anak itu. Diapun mengeluarkan botol air minum dari tasnya dan meminta Bagas dan Danish untuk berhenti.
"Stop! Kalian berdua! Dengerin om dulu, nanti baru lanjut berantemnya," ucap Aarav dengan tegas. Kedua anak itupun tenang kembali dan mendengarkan penjelasan Aarav. "Kalian tahu kenapa om bisa lari dengan cepat hingga jadi atlet provinsi?" Tanya Aarav seperti sedang menceritakan rahasia negara, sangat serius. Bagas dan Danish menggelengkan kepala mereka dengan cepat.
Aarav pun melanjutkan, "om lari terus setiap hari! Ke sekolah, ngejar tukang bakso, ngejar angkot, ikut lomba sana-sini, dan terus berlari hingga om bisa secepat Muhammad Sarengat," dia berhenti sejenak dan membuka botol minumnya, "tapi om juga punya rahasia. Ini adalah ramuan ajaib yang bisa membuat lari kita menjadi cepat!"
Aarav menyodorkan minuman sewarna teh lemon pada Bagas. Bagas bertanya dengan ragu, "i-ini apa?"
Aarav mengulum senyum lebar di wajahnya dan menjawab, "itu adalah rebusan bunga langka yang hanya tumbuh di pegunungan Himalaya. Juga perasan buah lemon dari perkebunan Maldives di gua rahasia Hawai. Masih banyak bahan lainnya juga. Ramuan ini bisa membuat larimu sangat cepat selamanya. Kalau hanya untuk memenangkan perlombaan sekolah ini, itumah kacang!"
"Bukannya bunga tid-"
"Shh!" Baru saja Danish ingin mengoreksi bahwa bunga tidak bisa tumbuh di pegunungan Himalaya dan Maldives adalah sebuah selat, Aarav langsung menyuruhnya diam.
Mata jasper Bagas langsung berbinar terang memandang penuh kagum ramuan itu. Sejak dulu Bagas selalu menyukai hal-hal berbau fantasi. Tidak pernah disangkanya hal-hal yang selalu hanya bisa dia bayangkan dengan imajinasinya benar-benar ada di dunia nyata. Dia langsung teringat dengan kaum Galia di cerita Asterix. Apakah dia juga bisa sekuat dan secepat mereka dengan ramuan ajaib ini?
"Boleh kuminum? Sekali saja," tanya Bagas tak sabar mengetahui cita rasa 'ramuan ajaib' milik paman Aarav. Aarav pun mengangguk sebagai tanda bahwa Bagas boleh meminumnya.
Bagas menelan ludahnya sebelum meminum 'ramuan ajaib' itu. Jantungnya berdebar-debar dan rasa penasaran kian membesar. Dengan sedikit ragu dia mendekatkan botol itu ke bibirnya. Perlahan, satu tegukan telah melewati tenggorokannya.
"...pahit," ujar Bagas setelah meminumnya.
Danish menghela napas lega setelah tahu bahwa minuman itu bukan narkoba atau obat-obatan aneh. "Gimana?" Tanya Danish penasaran.
"Rasanya...rasanya badanku jadi ringan! Lalu...eh...entah kenapa aku merasa sangat kuat! Aku bahkan merasa percaya diri kalau aku bisa mengalahkan kak Radith!" Jelas Bagas yang tidak lagi menunjukkan raut wajah pesimis. Seolah semua kegundahan dan kegelisahannya telah tersapu habis oleh satu tegukan 'ramuan ajaib' dari Aarav.
"Baguslah!" Ucap Aarav gembira keponakannya menjadi semangat.
"Eh! Lombanya udah mau mulai tuh!" Seru Danish saat menyadari bahwa lapangan lari sudah dikerumuni seisi sekolah.
"Tenang! Kita nggak akan lambat!" Ucap Bagas yang telah 'berlari' ke lapangan lari dengan sangat cepat. Hampir secepat angin yang diciptakan dari lintasan larinya.
"Haha! Dia sudah semangat!" Ujar Aarav.
Sesampainya di lintasan lomba, Bagas segera bersiap untuk berlari dan memasang kuda-kuda. "Yak! Semua peserta sudah lengkap!" Ucap wasit sebelum memulai pertandingan.
"Bersedia...siap...mulai!"
Seiring dengan terucapnya kata 'mulai', para peserta melesat dengan cepat layaknya angin badai. Satu-persatu lawannya mulai berhasil disalip Bagas. Dengan gesit dia melambung, dengan tangkas dia melaju, dengan cepat dia berlari di lintasan!
Senyum bahagia terulas di wajahnya. Keringat bercucuran dari pelipis dan sekujur tubuhnya. Membasahi badan yang dia bawa berlari dengan kaki yang tangkas itu. Timbul perasaan bahwa langkahnya kini seringan kapas. Seolah dia bisa melompat setinggi langit atau berlari ke ujung dunia dalam waktu sedetik.
Terlepas dari perasaan gembiranya, masih ada lawan berat di depannya. Radith masih bertahan memimpin pertandingan di posisi pertama. Larinya benar-benar cepat. Memang sulit untuk mengalahkan juara bertahan di sekolah ini.
Namun Bagas tidak jua berputus asa. Tidak lagi dia pesimis seperti tadi. Melihat dia bisa berlari sejauh ini melewati 20 lawannya yang lain, bukan tidak mungkin dia bisa mengalahkan sosok tak tergapai di hadapannya itu.
Bagas menajamkan matanya. Memastikan angin tak akan menusuk pandangannya nanti. Ditariknya napas yang sangat dalam. Dikuatkannya seluruh badannya. Dan sekali lagi, dia melaju secepat cheetah. Mempersempit jarak yang begitu besar dengan Radith saat pertama ia berlari. Dan setelah semeter lagi jaraknya dengan pita merah pertanda kemenangan, secepat mata Radith melirik sosok yang akan mengalahkannya, dia berhasil menyalip Radith.
"UWOOH!!" Tanpa sadar Bagas melepaskan semua adrenalinnya dalam satu teriakan setelah berhasil memutus pita merah tadi.
Bagas berusah mengatur napasnya yang sangat kacau. Menyeka keringat yang membasahi baju olahraganya. Dan melambaikan tangan pada Danish dan Aarav seolah berseru dengan lantang, 'Aku berhasil!'.
Wasit dan kepala sekolahpun mengalungkan medali pada Bagas. Sorak riuh tepuk tangan memenuhi udara. Seluruh teman sekelas dan para guru yang ingin dibanggakan Bagas, menyelamati dirinya. Begitupun Radith. Dia mengapresiasi orang pertama yang berhasil mengalahkannya di SMP.
Dalam hati, Bagas berpikir, 'ternyata 'berani mencoba' tidak begitu buruk.'
Sementara Bagas sibuk menikmati kemenangannya, Danish bertanya pada Aarav, "Om. 'Ramuan ajaib' milik Om itu, sama sekali bukan 'ramuan ajaib' kan?"
Aarav tertawa lepas sekali lagi. "Kalau soal kepintaran kamu memang selalu mengalahkan Bagas," ucap Aarav.
"Jadi itu apa? Bukan obat-obatan terlarang kan?" Tanya Danish memastikan.
"Bukan, bukan. Hanya teh melati dan perasan jeruk nipis," jawab Aarav sembari memamerkan 'ramuan ajaib'nya seolah sedang promosi.
Danish menghela napas pendek. Dugaannya benar. "Tapi kalau soal ajaib, bagiku itu benar kok," ujarnya lagi.
"Oh ya?" Aarav menaikkan sebelah alisnya, "aku hanya memberinya sedikit 'dorongan' dan 'motivasi'."
"Justru hal itulah yang paling dibutuhkan semua orang. Percuma punya kemampuan hebat tapi tidak ada motivasi untuk memanfaatkannya," ucap Danish, "dan Om memberikannya dengan cara yang kreatif. Daripada ceramah panjang lebar, Om justru memberi Bagas 'ramuan ajaib'."
Aarav mengulum senyum tipis di wajahnya. "Disebut 'ramuan ajaib' bukan karena bahannya, tapi efeknya," gumam Aarav.
Pada akhirnya kemenangan Bagas sama sekali tidak tercipta dari 'ramuan ajaib', tapi dari usaha dan kemampuannya sendiri. Dan yang paling penting adalah keberaniannya untuk mengikuti lomba.
Komentar
Posting Komentar