Postingan

Surat Cinta untuk Rembulan

 "Kenapa kita sangat mudah jatuh cinta pada Rembulan?" Gadis itu bertanya, entah padaku atau pada angin yang berembus sendu, atau sekedar melampiaskan kekosongan hatinya. Meski begitu, aku ingin menjawab. Sebab kekagumanku pada objek perhatiannya juga tak lagi bisa kubendung.  "Mungkin karena kita bisa menatap Rembulan dengan lama," ujarku, sukses menarik atensinya yang tadi terpaku pada langit. "Kita dapat mengenal Rembulan. Kita jadi tahu lembutnya cahaya Rembulan, terang tapi meneduhkan. Kita jadi tahu tegarnya Rembulan, kesepian di langit seorang diri tapi tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Dan kita jadi tahu, betapa indahnya malam jika kita punya setitik harapan atas hadirnya seberkas cahaya bulan." Ia terdiam sejenak, mencerna dengan khidmat kata-kataku. Seakan segala huruf yang kuucapkan adalah penting untuknya. Meski nyatanya, aku tak lebih dari sekedar tanah yang hanya untuk dipijak. Setelah sekilas hening, ia mengurai senyuman tipis. Dan, ...

Ramuan Ajaib Paman Araav

  Ramuan Ajaib Paman Araav     Sudah puluhan bahkan ratusan kali Bagas mengeluh bahwa dia tidak akan bisa memenangkan lomba lari di sekolahnya. Danish bahkan sudah sangat lelah menasihati dan meminta perwakilan kelasnya itu agar tetap optimis dan percaya diri. "Aaaa! Lebih baik aku mengundurkan diri saja!" Ucap Bagas sembari merebut daftar peserta di tangan Danish untuk mencoret namanya. Dengan cepat Danish mengambil kembali kertas itu sebelum Bagas sempat mendaratkan pulpennya. "Kamu kenapa lagi Bagas?" Tanya Danish dengan nada malas karena sudah berkali-kali dia harus menyingkirkan sikap pesimis sahabatnya. "Aku tidak mungkin menang Dan! Kamu nggak liat kakak kelas yang bongsor-bongsor itu?!" Jawab Bagas seraya menunjuk orang-orang yang dimaksudnya. Mata Danish segera mengikuti arah yang ditunjuk Bagas. Kali ini Bagas ada benarnya. Rasanya kalau Bagas yang masih kelas tujuh dibandingkan dengan senior mereka yang sudah menduduki kelas 9, mer...

Menjeremba Setitik Harsa

  Menjeremba Setitik Harsa   Wahai ibu, rembulanku kala malam gulita, bagaimana kabarmu? Ah, maaf. Aku terus-terusan lupa bahwa ibu sekarang ada di tempat yang tidak mengenal surat. Jawaban ibu pasti akan tersampaikan padaku lewat rahmat Tuhan yang membangunkanku di sepertiga malam. Tapi tanpa ibu jawab pun, aku tahu ibu baik-baik saja. Aku tahu ibu pasti sedang berjalan dengan bahagia di padang bunga yang jauh lebih indah dari Taman Gantung Babilonia. Andaikata ibu bertanya balik, aku juga baik-baik saja bu. Bahagiaku mungkin tak sama lagi sejak ayah mulai melunta-lunta di jalanan 10 tahun yang lalu. Bahagiaku mungkin tak sama lagi sejak engkau beranjak menapaki tangga-tangga langit. Tapi aku baik-baik saja bu. Dengan kedua adikku yang sifat mereka bagai candramawa, saling mengantonim satu sama lain, aku masihlah bahagia. Tentang kedua adikku yang usia kami terpaut jauh, tentang Kallang yang selalu irit bicara tapi sangat pengertian, tentang Pute yang ceria tapi san...

Museum Diri

Museum Diri Pagi ini aku merasa...manusia itu sangat mirip dengan museum.  Aku melihatnya ketika becermin di kaca jendelaku. Dari pantulan mataku aku berasumsi, mungkin aku hanyalah sebuah lukisan dengan cat air dari orang-orang yang pernah kucintai. Kebetulan saja warnanya terlihat sendu. Mungkin saja aku hanyalah minuman yang diracik spesial dengan resep rahasia: kepingan memori masa lalu.  Bahan utamanya tentu bahasa yang dipakai ibu dalam caraku berbicara. Segenggam ketegasan ayah dalam mempertahankan harga diri. Sejumput diri mantan sahabat dalam caraku tertawa. Dan sepercik pinguin dari Happy Feet pada cara berjalanku. Mengelap lensa kacamata dengan ujung baju juga dari ibuku. Hati penuh cerita untuk didongengkan seperti ibu, atau kakekku, atau kakeknya, atau kakeknya lagi. Nenek di kota jauh tentu saja alasan kenapa aku tahu cara menyalakan kompor. Caraku menopang dagu, lengkungan senyumku, semangatku, wajah yang kutunjukkan pada dunia, sepertinya...semua itu kupelajari...